Sabtu, 16 Agustus 2014
Lagi-lagi Tentang Cinta
Kemarin seorang teman menceritakan kisah cintanya yang pilu, lalu aku tersadar kenapa selama ini tak kuputuskan saja jalan hidupku. Selalu berharap ia akan mencintaiku lagi atau membiarkan diri ini bahagia dengan mengikhlaskannya. Dan aku memilih pilihan kedua, aku ingin menyerahkan segala cinta ini hanya untuk seseorang yang pantas mendapatkannya. Memang cintaku tak sebesar cinta tokoh-tokoh dalam negeri dongeng, tapi paling tidak aku menyimpannya rapat-rapat. Ahh.. mungkin kalian bosan membaca tulisan-tulisanku yang melulu tentang cinta. Karena kisahku yang lain kututurkan langsung lewat lisan, aku malas menulisnya. Hanya kisah cinta yang mampu membuatku ingin menulis, menulis, dan menulis.
Andai jatuh cinta bisa memilih, aku tak kan memilih dia yang akan mengecewakanku. Tapi inilah hidup, ada hikmah dari setiap takdir yang sudah Tuhan gariskan, tinggal aku mau ataau tidak mengambil hikmah dari perjalanan kisah cintaku. Setidaknya aku pernah melawan luka, setidaknya aku pernah mengambil keputusan yang pastinya tak mudah, setidaknya aku belajar mengikhlaskan dan bersabar menunggu sang pangeran yang Tuhan simpan untukku datang :)
Kamis, 05 Juni 2014
Kopdar Sekolah Pernikahan
Hari minggu kemarin saya dan beberapa teman menghadiri kopi darat sebuah web (sekolahpernikahan.com) yang isinya sharing-sharing tentang ilmu pernikahan. Kebetulan untuk info tentang kopdar, saya yang kasih tau beberapa teman dan yang paling semangat ngajakin. Yaah mungkin keliatannya saya ngebet banget untuk urusan yang satu itu (baca: nikah), maklumlah sudah berumur :p tapi sebenarnya, karena saya merasakan betul manfaat bergabung di web tersebut. Bahwa menikah bukan solusi dari semua masalah dari kehidupan, bahkan seringnya memulai masalah baru. Tapi bukan berarti "mending ga usah nikah". Menikah adalah bagian penyempurnaan keislaman kita, bentuk ketaatan kita kepada Allah. Lagian secara lahiriah, kita butuh yang namanya nikah. Kebayang ga sih sampai tua sendirian?!?!
Balik lagi ke soal kopdar yang menyenangkan. Banyak kejadian lucu untuk sampai ke lokasi acara. Ga tau harus naik transportasi umum apa, ga tau harus berhenti di mana, dan paling parahnya nama tempat yang disebutkan panitia tidak begitu familiar ditelinga masyarakat sekitar. Akhirnya setengah jam kami terbuang untuk nanya sana-sini, bolak-balik ga jelas, sampai akhirnya bapak-bapak kebersihan jalanan dengan baik hati mencoba menyarikan lokasi.
Tepat jam 9, kami sampai di lokasi. Untungnya acaranya belum dimulai. Tapi saat memasuki ruangan, ada sedikit syok sebenarnya. Karena para peserta kopdar kebanyakan berusia jauh lebih tua dari pada kami. Jadilah saya ngerasa "bocil" banget di sana. Btw, tapi mereka sangat welcome sekali dengan kedatangan kami. Mungkin di hati kecil mereka berkata, "salut masih muda tapi mau datang ke acara yang ngobrolin soal pernikahan seperti ini." Pede level 1000. Hahaha...
Kebetulan kopdar tersebut adalah kopdar pertama jadi ga terlalu banyak yang hadir, tapi justru seru, jadi semakin khusuk menyimak setiap materi dan sharing yang di berikan bapak kepala sekolah kami (sebutan untuk penggagas web sekolahpernikahan.com) pak noveldy. Beliau banyak berbagi cerita tentang pengalaman para klien yang pernah ditangani. Denger ceritanya bikin kepala saya nyut-nyutan. Yah benar, pernikahan ga sesimpel yang dibayangkan. Tapi jangan salah, pernikahan seharusnya tak semenyeramkan yang kita kira jika kita punya ilmunya. Pernikahan itu memulai fase kehidupan baru, butuh sekali ilmu sebagai pedoman kita menjalani fase-fase yang pastinya ada suka dan dukanya.
Oh iya, tema dari kopdar ini adalah "menikah jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung" apa sih maksudnya?? Intinya kenali dulu pasangan yang akan menjadi pendamping hidup kita selamanya. Karena kadang orang yang pacaran bertahun-tahun pun belum tentu sudah mengenal pasangannya. Lamanya pacaran tidak menjamin langgengnya suatu pernikahan. Laah terus gimana dong?? Makanya cari tau ilmunya dulu sebelum menikah. Hhehe
Di akhir acara, ada guest star yang paling di tunggu-tunggu, sepasang suami istri yang di usia pernikah yang masih muda, sudah Allah berikan ujian yang tak mudah. Mereka sangat terbuka berbagi pengalaman yang mereka hadapi. Butuh keberanian besar untuk bisa berbagi pengalaman pahit bukan? Saya coba membayangkan jika saya yang mengalami hal tersebut, jangankan berani menceritakannya di depan banyak orang, menuliskannya pun belum tentu saya sanggup. Tapi mereka berani berbagi sebagai pembelajaran kami, "mah jadi orang biasa atau jadi orang luar biasa?" Yang mampu tetap berkembang apapun tanah yang kita bijak, meski tanah berkerikil sekalu pun.
Waah pokoknya acaranya super seru dan asiik. Bekal berharga menuju fase baru yang sangat ditunggu-tunggu (khususnya untuk saya pribadi) :)